PSIKOLOGI KEPRIBADIAN (2)

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN (2)

(Sigmund Frued, BF. Skinner, Abraham Maslow)

Oleh: Muhammad Alwi SE,MM*


B.F (BURRHUS FREDERIC) SKINNER

Skinner tidak mempercayai teori-teori konseptual, bukan karena itu tidak penting, tetapi banyak konsep-konsep teori spekulatif itu, tidak mengizinkan atau menyelubungi hipotesis, sehingga sulit dibuat definisi operasional yang nantinya dapat dilakukan pengujian empiris.

Skinner sangat percaya dengan eksperimental, elementalisme. Sesuatu itu harus diteliti bagian per bagian lalu meluas dan makin meluas. Juga sesuatu itu benar dan salahnya bukan dari konsep rasional, tetapi mesti tahan uji secara empiris, eksperimental. Bagian dalam manusia tak dapat dilihat dan diteliti, yang kita lihat, ujia adalah yang tampak. Dari situlah kita mengetahui apa yang didalam. Manusia kata Skinner adalah kotak tertutup, variable pengantara tingkah laku, motif, dorongan dan lain-lain itu semua harus dikesampingkan, sebab itu menghambat penelitian-penelitan dan studi tentang tingkah laku manusia.

Penelitian ilmiah, harus dapat dibuktikan dengan variable yang terkontrol murni. Sehingga penjelasan-penjelasan lain tanpa control (hipotesa, fisiologi, genetika dan lain-lain, Skinner tak menyetujuinya).

Skinner percaya bahwa individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukan agen penyebab tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu point dimana factor-faktor lingkungan dan bawaan yang khas secara bersama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut. Studi kepribadian bagi skinner adalah bagaimana menemukan pola-pola yang khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan konsekuensi-konsekuensi yang diperkuatnya.

Skinner menggunakan analisis fungsional dimana ahli didorong untuk dapat membentuk kaitan “pasti”, nyata dan dapat diperinci antara tingkah laku organisme yang dapat diamati (respons) dan kondisi-kondisi lingkungan (stimulus) yang menentukan atau mengendalikannya. Variable-variabel yang dipakai harus eksternal, bisa dilihat dan dapat didefinisikan dalam istilah-istilah yng kuantitatif. Tujuan praktis dari itu adalah bisa memanipulasi variable-variabel lingkungan (independent variable) sebagai pangkal tolak pembuatan peramalan-peramalan, dan kemudian peneliti mengukur perubahan tingkah laku yang dihasilkan (dependent variable).

Pengkondisian Operan

System tingkah laku, kata Skinner terdiri dari 2 hal yaitu responden dan operan (operant). Singkatnya, setiap tingkah laku individu disebabkan oleh stimulus yang selalu mendahului respons. Misalnya menyempitkan mata karena sinar, menggigil karena dingin dll. Orang pertama yang mempelajari pengkondisian ini adalah Ivan Pavlol dengan “pengkondisian Klasiknya” lewat penelitian keluarnya air liur anjing.

Mula-mula anjing itu diberi makan dan setiap makanan diberikan, sebelumnya lonceng dibunyikan..karena adanya makanan, maka keluarlah air liur si anjing. Karena setiap makanan keluar sebelumnya didahului lonceng juga bunyi, maka setelah beberapa waktu pengkondisian itu, apabila lonceng dibunyikan walau tanpa makanan, maka air liur anjing tetap keluar. Tetapi bila sampai beberapa saat, lonceng terus yang bunyi tanpa dibarengi oleh makanan, maka air liur tak keluar.

Demikian juga pengkondisian yang dilakukan oleh Watson dan Rayner pada tahun 1920. sebelum pengkondisian Albert 11 th, tidak takut dengan tikus putih, kapas, topeng dll. Setelah dikondisikan, bahwa setiap ada tikus putih, anak kecil itu diberi bunyi-bunyian keras dibelakang dirinya. Setelah 7 kali pengkondisian, setelah lihat tikus putih saja, tanpa bunyi anak kecil itu sudah menangis dan ketakutan. Pada tahap selanjutnya Albert menggeneralisasi kondisi itu, sehingga ia takut pada anjing, mantel bulu, topeng, bahkan rambut peneliti.

Sekalipun pengkondisian klasik itu benar, tetapi kata Skinner yang lebih penting adalah Pengkondisian Operan. Tafsiran Skinner tentang pengkondisian adalah; penguatan (reiforcer) tindakan. Tindakan yang mendapat penguatan (hasil) positif akan dilakukan lagi (diulang), sedangkan yang mendapat penguatan negative akan ditinggalkan.

Mencacat dan Jadwal perkuatan

Makin probalistik hasil suatu tindakan, makin orang itu penasaran dan mencoba. Makin pasti suatu hasil tindakan, maka makin kecil penasaran, penguatan tindakan. Sebagai contoh bila gaji diberikan sebagai penguatan semangat kerja, maka akhir-akhir bulan pegawai semangat, atau minimal yang mendekati gajian. Setelah itu malas lagi.

Lain dengan sales, karena tidak jelas mana, pintu yang keberapa rumah orang akan beli, maka si sales akan terus bersemangat antara 1 rumah dengan rumah yang lainnya. Demikian juga dengan penjudi atau pemain jackpot… awalnya mereka mencoba, gagal-gagal, malas berjudi dan main lagi. Tetapi bila orang itu pernah menang, maka semangatnya dan kemungkinan ia berhenti akan lebih rendah… sekalipun uangnya ditambah dengan kemenangannya sudah ludes.

Pengkondisian juga akan membuat orang bertingkah laku tahayul, bila karena hal tertentu (kebetulan), menghasilkan keuntungan. Misalnya pemain bulu tangkis dengan raket tertentu, pemain sepak bola dengan kostum tertentu. Demikian waktu anak kecil bermain kelereng. Karena dengan menggunakan kelereng tertentu ia menang dan menang lagi.. maka mungkin ia akan menunda permainannya bahkan tidak bermain sementara waktu kalau kelereng itu tak ada. Dst..

Shaping adalah pembentukan suatu respon melalui pemberian penguatan atas respon-respon lain yang mengarah atau mendekati respon yang diinginkan. misalnya anak yang kita inginkan belajar, maka mendekati tempat belajar kita perkuat dengan hadiah, selanjutnya mendekati tempat belajar tidak kita kasih sampai ia pegang-pegang buku kita perkuat dengan hadiah, selanjutnya pegang-pegang buku sampai buka-buka buku kita perkuat.. buka-buka buku, sampai membaca sekalipun cerita kita perkuat dst..dst akhirnya ia akan belajar.

Evolusi Kebudayaan (behaviorisme)

Kebudayaan sama halnya dengan spesies-spesies, mengalami seleksi berdasarkan adaptasinya terhadap lingkungan, yakni; sejauh mana kebudayaan itu membantu anggota-anggota dalam rangka memperoleh apa yang mereka butuhkan; sejauh mana kebudayaan itu membantu anggotanya untuk menghindarkan dari hal-hal yang membahayakan; dan seberapa besar kebudayaan itu membantu orang-orang yang menjadi anggotanya untuk survive dan memelihara kebudayaan itu sendiri. Sama halnya dengan spesies dalam teori Darwin. Praktek-praktek budaya bisa berubah (bermutasi), tetapi praktek-praktek budaya tersebut tetap berlaku karena kebudayaan memiliki nilai adaptasi. Nilai kebudayaan hanya dapat ditentukan oleh satu criteria: Kelangsungan. Dan untuk menjamin kelangsungannya, kebudayaan harus mendorong anggota-anggotanya untuk bekerja bagi pemeliharaan kebudayaan. Orang-orang yang menjadi anggota kebudayaan itu harus diberi perkuatan bagi upaya mereka memelihara kebudayaan itu. Tantangan bagi “perancang kebudayaan” adalah mempercepat perkembangan praktek-praktek yang membawa konsekuensi memperkuat pada tingkah laku individu dalam arah yang langsung. Dan jika para anggota kebudayaan itu tidak memperoleh perkuatan, maka mereka tidak akan tergerak untuk bekerja bagi pemeliharaan kebudayaan sehingga kebudayaan tersebut akan mati.

ABRAHAM MASLOW

Psikologi Humanistik adalah psikologi yang berbeda dengan dua diatas. Psikologi ini lebih berdasarkan pada filsafat eksistensialis yang mengedepankan otonomi manusia dan kebebasan manusia. Eksistensialisme dengan tokoh-tohnya seperti Soren keirkegaard, Nietzcshe, karl jasper, Heidegger, Sartre, Merleu-ponty, camus, Biswanger, viktor frakl dll.

Manusia menurut eksistensialisme adalah mengada-dalam-dunia (being-in-the-word), dan menyadari penuh akan keberadaannya. Filsuf eksistensialeme percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih tindakannya, menentukan sendiri nasib atau wujud keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan keberadaannya itu. Pendek kata meminjam kata-kata Sartre: Aku adalah Pilihanku.

Konsep lain yang diambil oleh psikologi humanistic dari eksistensialis adalah konsep kemenjadian (becoming). Menurut konsep ini manusia tidak pernah diam, tetapi selalu dalam proses untuk menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya. Kita harus menerima tanggung jawab untuk membuat pilihan dan arah dari nasib kita sendiri. Kelahiran kita, dikehendaki atau tidak, menempatkan kita didunia dengan tanggung jawab atas satu kehidupan manusia, kehidupan kita sendiri. Melarikan diri dari kebebasan dan tanggung jawab adalah mengingkari kesejatian dan merupakan satu keputusan yang tak terpuji.

Eksistensialisme juga percaya dan menekankan kesadaran manusia, perasaan subjektif, dan pengalaman-pengalaman personal yang berkaitan dengan keberadaan individu dalam dunia bersama individu-individu lain (ini adalah pandangan fenomenologis yang diterima oleh eksistensialis yang juga dipakai oleh psikologi humanis/eksistensialis).

Ajaran Psikologi Humanistik antara lain; yang membedakan dengan psikologi sebelumnya. 1) Individu sebagai keseluruhan yang integral. Kata maslow teori yang baik bukan melihat kebutuhan mulut, perut..kelamin.yang ada adalah kebutuhan individu. Kepuasan dirasakan oleh individu, bukan sebagian tubuh (maslow, 1970). 2) tidak layak percobaan hewan dioper ke manusia. Hewan dan manusia sangat berbeda. 3) percaya bahwa manusia pada dasarnya baik.

Teori Kebutuhan Bertingkat Maslow

Teori Maslow yang paling terkenal adalah kebutuhan bertingkatnya. Menurut Maslow, kebutuhan itu bertingkat-tingkat pada individu mulai dari;

1. Kebutuhan-kebutuhan dasar

Kebutuhan dasar adalah kebutuhan fisiologis, antara lain kebutuhan akan makanan, air, oksigen, istirahat, keseimbangan temperature, seks dll.

2. Kebutuhan akan rasa aman

kebutuhan rasa aman adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian dan keteraturan dari keadaan lingkungannya.

3. Kebutuhan akan cinta dan memiliki

need for love and belongingness adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan hubungan afektif atau ikatan emosional dengan individu lain.

4. Kebutuhan akan rasa harga diri, dan

Need for self-esteem adalah penghargaan dari diri sendiri dan orang lain. Dari diri sendiri adalah kebutuhan untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, adekuasi, kemandirian, dan kebebasan. Yang kedua adalah prestasi; individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya.

5. Kebutuhan akan aktualisasi diri.

Kebutuhan untuk mengungkapkan diri atau aktualisasi diri (need for self-actualization). Ini adalah hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya, atau hasrat dari individu untuk menyempurnakan dirinya melalui pengungkapan segenap potensi yang dimilikinya. Berbuat yang terbaik, melakukan sesuatu itu adalah aktualisasi diri. Tidak harus orang besar, butuhpun bisa dan ingin kebutuhan ini bila kebutuhan atasnya sudah terpenuhi…yaitu berbuat atau melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya.

(walau teori yang terakhir ini masuk akal, tetapi kurang didukung oleh penelitian-penelitan secara umum. Banyak yang mencoba untuk memberikan validasi dan kurang cocok, valid).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: