KONTRUKTIVISME DAN PENDIDIKAN (2)

Implikasi Konstruktivisme Terhadap Proses Belajar

Makna belajar menurut kaum Kontrutivisme adalah proses aktif pelajar mengkontruksi apa itu teks, dialog, pengalaman fisis dan lain-lain. Proses ini dicirikan dengan;

Baca lebih lanjut

KONTRUKTIVISME DAN PENDIDIKAN (1)

PENDIDIKAN &

PSIKOLOGI-FILSAFAT KONSTRUKTIVISME

Oleh: Muhammad Alwi [1]

Viktor E. Frankl mengutup kata-kata Nietzsche; He who has a why believe for can bear whith almost any how (‘Dia yang memiliki mengapa untuk hidup, akan bisa bertahan dalam hampir semua bagaimana”)

Was du erlebst, kann keine Macht der Welt dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun dibumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani).( Nietzsche)

Affectus, qui passio est, desinit esse passio simulatque eius claram et distinctam formamus ideam.Emosi yang sedang menderita, tidak akan lagi menderita setelah kita membuat gambaran yang jelas dan benar dari penderitaan tersebut (Spinoza)

Filsafat Pengetahuan atau epistemology adalah filsafat yang mempertanyakan; 1) apa pengetahuan itu, 2) bagaimana kita memperoleh pengetahuan, bagaimana kita tahu tentang sesuatu, juga mempertanyakan 3) apakah kebenaran itu?” (Bodner, 1986; Ryan & Cooper, 1992).

Kontruktivisme salah satu dari FIlsafat Pengetahuan beranggapan bahwa pengetahuan kita itu merupakan kontruksi (bentukan) dari kita yang mengetahui sesuatu. Seseorang yang belajar itu membentuk sesuatu, bukan apa yang diberikan oleh buku ataupun gurunya. Menurut gagasan ini, pengetahuan itu bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan, melainkan suatu perumusan yang diciptakan orang yang sedang mempelajarinya. Pengetahuan itu mengandung proses, bukanlah fakta yang statis. Dalam artian ini, pengetahuan itu tidak lepas dari orang yang mengetahuinya.[2] Contoh-nya adalah perkembangan optic Geometri. Sebelum Newton, orang memandangnya sebagai cahaya yang berjalan lurus, gambaran ini benar, tetapi tidak sepenuhnya, khususnya masalah pembiasan, Newton mengusulkan gambaran baru, yaitu cahaya sebagai partikel bulat yang bergerak lurus. Gambaran ini benar, menyempurnakan pengetahuan sebelumnya, tetapi juga belum lengkap. Thomas Young menjelaskan cahaya sebagai gelombang karena punya sifat-sifat gelombang, selanjutnya gambaran itu dilengkapi oleh Planck serta Einstein dalam penjelasan Foto-listrik, yang menemukan gambaran baru bahwa cahaya terdiri dari paket energi.

Ingat bahwa Fakta yang diamati sama, yaitu cahaya, tetapi pengamatannya yang berbeda. Dalam pengamatan itu tidak ada fakta baru yang diciptakan. Apa yang baru adalah cara fakta-fakta itu dikontruksi atau diorganisasikan. Pengertian cahaya sebagai sinar, partikel, gelombang atau paket listrik adalah abstraksi yang dikontruksikan. Bahkan Shapiro mengatakan pengetahuan itu kontruksi spasial, artinya pengetahuan perlu diterima oleh masyarakat ilmiah.

Von Glasersfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah tiruan dari kenyataan (realitas). Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu kontruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Seseorang membentuk skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan. Maka pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikontruksikan dari pengalaman atau dunia sejauh dialaminya. Proses itu berjalan terus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru (Piaget, 1971). Baca lebih lanjut

Manusia Hidup Mencari Makna

MAN’S SEARCH FOR MEANING

(Pencarian Makna dalam perspektif “Logoterapi”)

Oleh: Muhammad Alwi

Pendahuluan

Salah satu tema utama eksistensial adalah Penderitaan; kehidupan identik dengan penderitaan, bertahan hidup identik dengan menemukan makna didalam penderitaan. Jika hidup memang memiliki tujuan, maka penderitaan dan kematian seharusnya juga memiliki tujuan. Meskipun demikian, tidak ada orang yang bisa menunjukkan tujuan hidup orang lain.

Dalam penderitaan-penderitaan tertentu; terkadang orang bertindak irasional. Apatis adalah mekanisme pertahanan yang dibutuhkan (saat penderitaan memuncak, seperti di kamp kosentrasi Nazi). Realitas mengabur, semua upaya dan emosi terpusat pada satu tujuan; mempertahankan hidupnya dan hidup orang lain. Mudah dipahami, jika kondisi tertekan, ditambah keharusan untuk terus memusatkan perhatian pada upaya untuk bertahan hidup, kehidupan batin para tahanan (seperti di dalam kamp kosentrasi Nazi) ditekan sampai pada titik yang paling primitive. Sehingga benarlah kata-kata;  “Reaksi abnormal terhadap situasi abnormal merupakan tingkah laku yang normal”. Setiap orang harus menemukan sendiri tujuan hidup mereka masing-masing, dan harus menerima tanggung jawab yang muncul didalamnya. Jika berhasil, dia akan terus berkembang, meskipun hidup ditengah kehinaan. Frankl mengutup kata-kata Nietzsche; He who has a why believe for can bear whith almost any how (‘Dia yang memiliki mengapa untuk hidup, akan bisa bertahan dalam hampir semua bagaimana”) Baca lebih lanjut

(1) Strategi Belajar-Mengajar dengan Multiple intelligences

(1) Strategi Belajar-Mengajar dengan Multiple intelligences

MULTIPLE INTELLIGENCES
KECERDASAN MENURUT HOWARD GARDNER & IMPLEMENTASINYA (STRATEGI PENGAJARAN DIKELAS)
Oleh : Muhammad Alwi[1]

A. Howard Gardner dan Multiple Intelligences?

Howard Gardner lahir 11 Juni 1943, ia masuk Harvard pada tahun 1961, dengan keinginan awal, masuk Jurusan Sejarah, tetapi di bawah pengaruh Erik Erikson, ia berubah mempelajari Hubungan-sosial (gabungan psikologi, sosiologi, dan antropologi), dengan kosentrasi di psikologi klinis. Lalu ia terpengaruh oleh psikolog Jerome Bruner dan Jean Piaget. Setelah Ph.D di Harvard pada tahun 1971 dengan disseration masalah “Sensitivitas pada anak-anak”, Gardner terus bekerja di Harvard, di Proyek Zero. Didirikan pada tahun 1967, Proyek Zero dikhususkan kepada kajian sistematis pemikiran artistik dan kreativitas dalam seni, serta humanistik dan disiplin ilmu, baik di tingkat individu dan kelembagaan.

Baca lebih lanjut

Rekontruksi Islam Sunnah-Syi’ah-Wahabi dan Liberalisme

DIAGNOSA PSIKOANALISIS DAN REKONTRUKSI SEJARAH ISLAM
SEBUAH UPAYA MELIHAT ‘ISLAM-BARU’, REKONSILIASI MADZAB BESAR ISLAM; SYI’AH-SUNNAH-WAHABI-LIBERALIS

BAB-BAB BUKU (Rencana Buku)
BAB 1. PROBLEM PENDEKATAN DALAM ISLAM
BAB 2. BELAJAR DARI BARAT ‘REKONTRUKSI KESALAHAN’
BAB 3. PENGANTAR PSIKO-ANALISA
BAB 4. PSIKO-ANALISA SEBAGAI DIAGNOSA (HERMENEUTIKA DALAM)
BAB 5. PEMAHAMAN TEKS DAN ILMU TAFSIR (HERMENEUTIKA)
BAB 6. SEJARAH PERADABAN ISLAM SINGKAT
BAB 7. KONSEP SEJARAH DAN PEMBACAAN SEJARAH AWAL ISLAM
BAB 8. PENELAAHAN SEJARAH ISLAM DENGAN METODOLOGI ‘BARU’, SEBUAH UPAYA REKONSILIASI
BAB 9. SOLUSI ALTERNATIF REKONSILIASI MADZAB BESAR ISLAM (SYI’AH-SUNNAH-WAHABI-LIBERALIS)

.

BAB 1. PROBLEM PENDEKATAN DALAM ’PEMBACAAN’ SEJARAH DALAM ISLAM

Hampir disepakati bahwa islam mengalami keterpurukan saat ini, mulai ekonomi, politik, sosial, ilmu pengetahuan dan tehnologi. Kalau masih boleh ada yangn dibanggakan mungkin adalah ’moral’ (tidak separah kerusakannya dalam masyarakat Barat-Kristen). Walau dengan upaya-upayanya barat sekarang mencoba untuk menanggulangi itu. Dengan kritik terhadap positivisme, modernisme-nya sendiri, post-modernisme, madzab Frankfurt, mengarah ke sosialis-demokrat (atau welfare state) dst. Lalu bagaimana dengan belahan lain, Islam? Apa yang sudah dilakukannya?

Baca lebih lanjut

ISLAM” DAN KESADARAN SEJARAH-SEJARAH KEBENARAN

ISLAM” DAN KESADARAN SEJARAH – SEJARAH KEBENARAN

Oleh: Muhammad Alwi SE,MM*

“Berilah kasih sayangmu (padanya: pen), tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,… jiwa mereka adalah penghuni masa depan yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi… sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau “

Aforisma, khalil Jibran khalil

“Agar orang, bangsa dan kebudayaan dapat hidup dengan sehat, baik yang histories maupun yang non histories sama-sama berguna “

Nietzche

Kita membutuhkan akan sejarah, sebab sejarah adalah pengetahuan tentang masa lampau yang memperlihatkan perspektif masa kini. Dan masa kini memberikan jejak-jejak masa depannya. Sekalipun demikian sebagai manusia yang meyakini eksistensi dan ‘kebebasan’nya kita tidak harus terjebak pada “sejarah”. Mesti kita melihat mana-mana yang perlu ditapaki sebagai archethype masa lalu, dan mana yang tidak, seperti kata-kata Nietzsche dan Khalil Jibran diatas.

Baca lebih lanjut

ISLAMUNA-ISLAMUKUM

ISLAMUNA-ISLAMUKUM

PROBLEMA BERKEBENARAN DALAM BERAGAMA

Seringkali sesama kita (Ummat manusia, Ummat Islam) “bentrok”, padahal bertujuan “sama”. Seringkali kita bertujuan sama dengan strategi, dan cara berfikir serta upaya perealisasiannya yang berbeda, juga seringkali bentrok hanya karena skala prioritas yang berbeda. Ini khususnya sering terjadi dalam pemahaman Islam. Pemahaman dua kelompok besar apabila kita boleh mendikotomikan mereka.

Baca lebih lanjut